
Sampai kapanpun kau kembali aku tak akan pernah menerimamu sebagai anakku. Sumpah demi Allah tak akan bisa keterunan lahir dari rahimmu. Sampai kapanpun aku tak sudi melihat wajahmu lagi. Dasar anak durhaka. Tak tau diri,
Wajah ibu begitu murka saat melihat foto Marni yang ada di kamarnya. Saat itu ibu memang sedang sakit parah. Dalam sakitnya dia sering mengigau nama Marni. Itulah ibu sakit hatinya selama ini belum bisa membuatnya menerima Marni kembali kepangkuannya. Aku juga tak bisa menyalahkan ibuku. Marni memang terlalu. Sangat mengecewakan keluargaku.
Saat dia mencoba memilih laki-laki itu, dan pergi meninggalkan rumah. Airmata darah telah ibu kelurkan demi membujuk nya untuk kembali. Berbagai macam tipe orang pintar dicoba ibu untuk mencari solusi agar Marni kembali kerumah dan meninggalkan lelaki jahat itu, namun semua nihil entah setan apa yang telah merasuki tubuhnya sampai-sampai raungan ibu juga bujukan bapak tak lagi dia hiraukan.
* * *
Cerita bermula saat Marni mulai jatuh cinta dengan seorang laki-laki. Lelaki dengan modal tampannya, yang tak jelas asal-usulnya, lelaki yang tak punya pekerjaan tetap membuat kami sekelurga tak ada yang seteju dengan hubungan mereka. Cinta yang tak direstui pun terjalin antar mereka. Mabuk asmara membuat Marni lupa segalanya. Diakhir kuliahnya yang tinggal sidang juga tak bisa diselesaikannya. Dia lebih memilih laki-laki gila itu.
Suasana kian memanas saat Marni meminta menikah dengan laki-laki itu. Bukan tak direstui namun bapak menginginkan agar kuliahnya diselesaikan dulu barulah memikirkan untuk menikah. Selain itu laki-laki itu juga tak berani datang kerumah untuk berjumpa dengan ibu dan bapak. Marni tetap ngotot agar dinikahkan dalam waktu yang sangat cepat. Ketika ditanya berapa mahar yang akan lelaki itu berikan untuk meminang, Marni mengatakan bahwa laki-laki itu tak ada uang untuk melamar dia. Ibu, yang tadinya mulai bisa merestui mulai membangun tembok kekesalan. “Jadi apa maunya laki-laki itu?” kata ibu saat pertengkaran terjadi.
Marni mulai uring-uringan. Sholat tak lagi dia kerjakan. Tatapan kosong, diam dan termangu. Marni seperti orang linglung. Itu saja yang dilakukan Marni setelah pertengkaan itu. Padahal kalau saja Marni mengerti maksud ibu semua akan berjalan dengan mudah. Ibu hanya minta dua pilihan. Selesaikan kuliah atau suruh lelaki itu bertemu keluarga untuk membicarakan kesungguhannya untuk melamar Marni.
Marni sering pergi tanpa permisi. Padahal dulu dia termasuk anak yang nurut apa kata orang tua. Cium tangan tak pernah dia lupakan kalau akan berpergian tapi sekarang dia benar-benar berubah.
* * *
Seisi rumah gempar. Ibu pingsan. Aku tak tak tau harus berbuat apa. Kutelepon bapak yang sedang berjualan dipajak. Agar bapak segera pulang. Marni kabur. Semua pakaian dilemari habis. Tetangga bilang tadi dia pergi membawa tas besar. Katanya mau kelampung kerumah pakciknya. Kutelepon pacikku untuk memastikan apakah Marni bilang kalau dia mau kesana. Namun mereka juga tak tau kalau Marni mau kesana. Tak ada kabar dari Marni yang mengatakan dia akan kesana.
Ibu makin gila saja, raungan juga jeritan dia luapkan. Memanggil nama Marni. Meminta maaf, memohon agar Marni jangan pergi. Maklumlah kami hanya tiga bersaudara. Kakak pertamaku sudah berkeluarga dan tinggal bersama suaminya di Stabat, Marni anak kedua, dan aku anak bontot. Wajar ibu kehilangan, karena hanya kami yang dia miliki. Harta tak ada yang bisa dibanggakan. Cuma anak-anak yang sholeh dan sholehah impiannya. Dari sejak SMP sampai SMA kami disekolahkan di Sebuah Pondok Pesantren di kota Medan. Agar kelak kami bisa menjadi anak yang dia harapakan. Walau bersakit dengan bapak yang hanya berpropesi sebagai penjual kopi di sebuah pajak namun kami bisa bersekolah dan menerima fasilitas yang cukup.
Satu minggu berlalu, namun belum ada juga kabar tetang keberadaan Marni. Beberapa hari kemudian ada kabar yang mengatakan bahwa Marni sudah menikah. Dan sekarang berada di daerah pelosok Labuhan Batu. Segera kulacak dan akhirnya kutemukan dia. Namun apa yang terjadi, aku malu diusir oleh lelaki itu yang katanya sudah menjadi suaminya. Aku tak bisa berbuat lebih, karena ini kampong orang. Bahaya kalau aku main paksa untuk mengajaknya pulang.bisa-bisa aku ditikam disini. Akupun pulang dan membawa kabar ini. Ibu lemas. Kerinduannya membuatnya harus terbaring ditempat tidur.
Usaha pun kami lakukan untuk mengajaknya pulang, walau sebentar, karena ibu sangat ingin bertemu dengannya walau hanya dua jam saja. Pergilah aku dan bapak melihatnya, perlakuan sama juga terjadi pada bapak. Bapak diusir. Wajah bapak memelas agar dia mua kembali, namun laki-laki gila itu menariknya untuk menjauh. Jadilah kami seperti rebutan barang. Bapak tersungkur ketanah. Namun Marni yang melihat kejadian itu hanya mampu diam tak bisa berbuat apa-apa
Tak kuat aku menyeka airmata. Melihat wajah pucat bapak. Ku ajak bapak pergi meninggalkan tempat itu. Dengan harapan tidak akan kembali lagi untuk mengajaknya kembali, karena sudah cukup penderitaan yang dia torehkan pada ibu juga bapakku.
* * *
Semua berjalan seperti biasa. Marni sudah tak lagi bahan perbincangan keluarga. Ibu juga sudah pasrah. Aku juga sudah melarangnya ke oarng Pintar. Karena itu semua bohong. Yang ada hanya dosa pada Tuhan.
Hari-hariku sekarang membantu ibu berjualan lontong di kedai bapak. Walau aku lelaki, semua pekerjaan kulakukan untuk membantu ibu. Kondisi ibu yang sudah tua juga banyak penyakit yang dia derita membuatya tak boleh banyak bekerja. Kukorbakan skripsiku tak selesai untuk membantu ibu. biarlah aku yang menjadi mimpi ibu dan bapak selanjutnya. Hanya aku sisa perjuangannya. Tak ada yang mampu kulakukan kecuali membahagiakan mereka. Sampai-sampai untuk memikirkan menikah aku pun tidak berani. Apalagi melirik wanita. “Ah…biarlah” sahutku dalam nafas yang terlepas.
* * *
Hari ini ibu masuk rumah sakit. Ada pengapuran dipinggangnya. Penyakit lama yang sudah ditahan. Puncaknya adalah sekarang ibu diopname. Sudah tiga hari tak sadarkan diri. Kami semua takut kalau-kalau ibu pergi tanpa melihat wajah Marni. Tapi bagaimana agar Marni mau kembali melihat ibu. walau hanya melihat saja tak apalah yang penting ibu bisa sembuh. Apalagi terdengar kabar kalau Marni sudah pindah Ke Pekanbaru. Dengan bantuan beberapa temanku, kucari alamat Marni juga no yang bisa dihubungi, akhirnya sms singkat pun kukirimkan untuk Marni kelak ketika dia membaca sms ku tergerak hatinya untuk melihat ibu.
Tepat hari selasa, Marni meneleponku, menanyakan dimana alamat Rumah sakit tempat ibu dirawat. Karena dia ingin melihat ibu dan meminta maaf akan keselahannya. Aku tak memberitahukan ibu akan kedatangan Marni, karena ibu baru saja sadar beberapa jam yang lalu. Takut aku aku, kabar kedatangan Marni akan mengajaukan kesehatanya kembali.
Usai magrib, Marni meneloponku, memintaku untuk menemuinya didepan pagar Rumah sakit. Dia masih takut untuk bertemu ibu. akupun menemuinya kucari-cari sosoknya tak ada, tiba-tiba ada yang memukul pundakku, kutolehkan wajahku, jujur aku sangat tak mengenal lagi sosok ini. Kakak tersayang yang dulu begitu dekat denganku, kurus, layu, wajah yang menua membuatku terpaku diam tanpa kata.
Setelah memandang Marni pikiranku melayang sejenak. Aku berfikir tentang sumpah serapah ibu saat meluapkan kekesalan pada nya. Apakah ini semua terjadi pada kehidupan Marni sekarang?
“Dimana ibu”, ungkapnya memecah lamunku. Tanpa banyak kata kuajak dia keruangn ibu. untuk kutunjukkan kamar ibu, dia seperti enggan untuk masuk mana lagi wajah-wajah sanak saudara yang ada diluar semua seperti ingin menerkamnya, kutemani dia masuk untuk bertemu ibu.
“Bu, Lihat ini ada Marni datang”
“Bu,”
Kugoyang tangannya. Ku hapus keningnya. Sambil terus memanggil namanya. Namun ibu tak bisa bangun lagi untuk selamanya.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar