Sabtu, 20 Desember 2008

puisi awak.




Menara dipusara hatiku.

Serasa dada dihimpit masa
Sesak yang tiada dua
Saat angin itu melagu
Menghantarku ke syurga kedamaian
Jauh dari sesak yang mendada.

Kala itu, dalam ragu kau bersiul ditelingaku
Merdu, menggelitik telingaku.
Awan menari diatas mata
Bersama ranting bergemerincing
Juga daun yang melukis kehijauan.

Ah, ingin rasa nya tak kembali.
Membiarkan diri dikepung asmara
Bersamaa sejuknya hawa
Dan indahnya lukisan dunia
Semua adalah miliknya.
Ya Robbana.


Gundaling Mei 2008














Aku beranjak pergi

Tak lagi bisa mataku memandang hari
Saat awan menutup diri
Pada selimut kabut
Rona malam terasa sepi
Menyela hari serasa misteri

Aku beranjak pergi
Meninggalkan angan yang siap kuamati
Diatas pena dibawah mentari

Aha, kuucap salam dikampung nan murni
Akan udara dingin juga buah strobery
Semerbak rindu kan kulukis disini
Tuk menyepi diladang hati.

Gundaling Mei 2008




Berceritalah Bu,.

Selimuti aku ibu
Agar hangat gemelut ahti yang merindu
Berceritalah ibu
Akan nabi juga rasul ilahi
Tentang hari yang kelak kan terjadi

Dekap aku ibu
Agar tersapu dahaga yang kulalui
Saat jauh darimu

Sapa aku ibu
Dengan setangkai nasehat
Yang penuh semangat
Darimu
Dari bibir tulusmu.

2008

Tidak ada komentar: